Di era digital ini, hubungan antara manusia dan teknologi tidak bisa dipisahkan, terlebih lagi bagi Generasi Z—mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Generasi ini tumbuh bersamaan dengan pesatnya perkembangan teknologi: dari ponsel pintar, media sosial, kecerdasan buatan, hingga realitas virtual. Namun, seiring eratnya hubungan ini, muncul pertanyaan kritis: siapa yang sebenarnya mengendalikan siapa? Apakah Generasi Z memanfaatkan teknologi, atau justru mereka yang dikendalikan oleh teknologi?
Teknologi Sebagai Bagian Hidup Sehari-hari
Bagi Generasi Z, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian dari identitas. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, kehidupan mereka dikelilingi oleh notifikasi, konten digital, dan koneksi internet. Mereka lebih memilih komunikasi lewat chat daripada tatap muka, lebih sering membaca berita dari TikTok atau Instagram dibandingkan surat kabar atau portal berita resmi.
Keterampilan digital generasi ini memang luar biasa. Mereka mampu mengoperasikan berbagai aplikasi, menciptakan konten kreatif, bahkan menjadi pengusaha muda lewat platform digital. Teknologi membuka peluang tanpa batas—pendidikan daring, e-commerce, remote working, dan masih banyak lagi. Dalam hal ini, Generasi Z terlihat sangat menguasai dan memanfaatkan teknologi untuk kemajuan pribadi maupun sosial.
Dampak Psikologis dan Sosial yang Mengkhawatirkan
Namun, sisi lain dari dominasi teknologi menunjukkan kenyataan yang tidak seindah tampaknya. Studi menunjukkan bahwa tingkat kecemasan, depresi, dan kesepian meningkat drastis pada remaja dan dewasa muda setelah meningkatnya penggunaan media sosial. Generasi Z sering terjebak dalam pencitraan digital, FOMO (Fear of Missing Out), dan ketergantungan terhadap validasi berupa "like" dan "followers".
Tidak jarang, algoritma media sosial memengaruhi cara berpikir, perilaku konsumsi, bahkan pandangan politik generasi ini. Tanpa disadari, teknologi bukan hanya menyediakan informasi, tapi juga membentuk opini dan keputusan. Dalam konteks ini, seolah-olah teknologi-lah yang mengendalikan manusia—bukan sebaliknya.
Kebebasan yang Semu
Kebebasan berekspresi yang ditawarkan teknologi sering kali hanya ilusi. Algoritma bekerja dengan cara menyaring konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, menciptakan ruang gema (echo chamber) yang membatasi pandangan berbeda. Hal ini mengurangi daya kritis dan memperkuat bias. Bahkan, pilihan yang tampak bebas pun sesungguhnya dikurasi oleh sistem yang didesain untuk menjaga keterlibatan pengguna selama mungkin—demi keuntungan komersial.
Perlu Keseimbangan dan Literasi Digital
Pertanyaan "siapa mengendalikan siapa?" tidak bisa dijawab dengan hitam putih. Generasi Z memang menguasai teknologi, tetapi mereka juga sangat rentan terhadap pengaruhnya. Karena itu, literasi digital menjadi kunci. Bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan untuk memahami dampaknya secara kritis, mengelola waktu layar, menjaga privasi, serta membedakan informasi yang valid dan yang menyesatkan.
Sekolah, keluarga, dan institusi sosial harus berperan aktif dalam mendampingi Generasi Z untuk membangun kesadaran akan penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab. Teknologi seharusnya menjadi alat pemberdayaan, bukan perangkap digital.
Penutup: Manusia Tetap Subjek Utama
Pada akhirnya, manusia lah yang menciptakan teknologi—bukan sebaliknya. Tetapi untuk tetap menjadi subjek utama, Generasi Z harus mengambil peran aktif dalam memahami, menyikapi, dan mengendalikan teknologi yang mereka gunakan. Jika tidak, maka masa depan digital justru akan mempersempit ruang kebebasan dan kemanusiaan itu sendiri.